Tampilkan postingan dengan label Bintang Merah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bintang Merah. Tampilkan semua postingan

Sampai Akhir Hidupku

>> 20 Oktober 2009

Lalu menjadi nyata
menuntunku ke lembah kasih
wangi abadi
Tinggalkan aku saat kau harus pergi
dan kembalilah saat kau ingin kembali

Tuhanku, dia ada di tempat-Mu
aku pun tak kuasa mencemburui
Tak terganti oleh apapun
tapi, Kau sejukkan aku dengan kasih saying
dan cinta-Mu selalu menjaganya

Lalu menjadi nyata
Izinkan aku hidup lebih lama
menuntunku untuk tak menyakiti dia
dan tak meluruhkan segala mimpinya

Tuhanku, aku pun ada di tempat-Mu
menghela nafas untuk kesejatian
mencari cinta yang telah Kau pilihkan
untuk dapat melengkapi yang harus dilengkapi
dan mencinta yang telah kucinta
sampai akhir hidupku

Read more...

Lentera Khayal

>> 19 Oktober 2009

Tuhan membukakan pintu ke dunia baru
kutebus dengan satu janji
Akan kututup mata hati dari mawar muram
yang menawarkan harum cinta
yang membius gairahku mengejar cinta

Suatu ketika seorang lelaki bertanya,
”Sampai kapan kau bertahan?”
Aku bergeming
Tak lagi inginkan satu pelarian
takut kembali pada-Nya dengan kepincangan
malu bersimpuh di hadapan-Nya
dengan jubah tercabik
Harus berdalih apa jika Dia menuntut
”Di mana jubah suci yang kutitipkan padamu?”

Kekasihku bukan sebenarnya terkasih
hanya lentera segala khayalku
Sampai nanti kudengar ikrar suci
khayalkan bahwa cinta itu tak mati
kanya sedang mengubur hasratnya
Khayalkan bahwa kepercayaan pun tak sirna
ketapi ingin mengunci diri
Khayalkan bahwa penantianku terpaut setia
dalam rumah tua di pinggir kota

Sampai nanti kaurangkai
kenangan manis yang tercecer
Biarkan kerapuhan hati menjadi
penggalan cerita yang kucaci maki

Read more...

Perempuan Yang Kausunting

>> 14 Oktober 2009

Tertulis di atas kaca berembun
Bahasa buaianmu, lelakiku
yang tak lazim lagi melerai murka
Tak melenakan nurani yang terjaga

Akhiri puisimu tentang kesetiaan
Bara yang lama kugenggam
hingga dagingku lepuh
Sekarang, tinggal seonggok arang
tanpa setitik pun nyala berpijar

Tak usahlah merengek-rengek
soal rindu
Kemarin, kusuguhi rindu hangat untukmu
Pagi ini, kaulumat rinduku yang telah jadi
bubur basi

Jenuh kudengar kicauan sumbang
tentang cinta
Di tepian tebing hati yang melapuk
menguar wangi, hembusan nafas cinta
yang terakhir

Pada detik senyumku membatu
satu perayaan usai malam lalu
Kau ucap lantang ikrar suci sehidup semati
pada kasih dalam balutan gaun putih

Read more...

Beri Judul : 'Untuk Kisah Kita'

>> 10 September 2009

Separuh dirimu t’lah punah
dari lembar diaryku
Menipis dan kian menipis
hingga tak tersisa helaian kosong
‘tuk sekedar goreskan namamu lagi
Karena waktu pun t’lah bosan
membacanya

Usailah sudah
Kisah –tanpa judul- t’lah tamat
Seiring bait terakhir puisi ini
Tanpa pernah bisa kuartikan
bias senyummu
Di akhir episode cerita kita

Read more...

Kisah -Tanpa Judul-

>> 09 September 2009

Sepotong anak panah
T’lah menembus nadiku
Lalu patah
Terkapar kehilangan daya
Tetes darahku pun t’lah mongering
Menyatu dalam tiap kata
Yang kuketikkan untukmu
-di sini dan saat ini-

Read more...

Masih Ingin Bersama

>> 07 September 2009

-Sepuluh menit yang lalu-
Sesal ini masih membekas
meski pelarianku telah terhenti
Setan-setan berkerubung, membisikkan rayuan
Betapa nikmat meregang nyawa
dengan jerat keputusasaan
Terlalu cepat waktu menghujam
penantianku, penantianmu
Haruskah kuakhiri hari ini ?

-Lima menit yang lalu-
Potretmu lekat di sudut kamar
Kenangkan satu kalimat
Buah pikirmu yang lama terabaikan
Tak setara dengan cinta yang pernah menyapa
Lebih…lebih istimewa
Karenamu, aku puas mereguk kasih sayang
Tanpa sedikit pun memberi kesempatan
Pada naluri untuk mengerti
Betapa pelik jalan yang kita telusuri

-Detik ini-
Kudapati mahkotaku kembali bersinar
Kerapuhan berganti ketegaran
Bolehkah aku terus bersama ketulusanmu?
Kita bangun istana yang baru
Jauh…jauh lebih kokoh
Beralaskan kesucian tawakal
Tersangga keagungan pilar-pilar tauhid
Tak lama lagi ‘kan kita rasakan teduh
Dalam naungan mahabbah-Nya

Read more...

Demi Sebuah Nama

>> 06 September 2009

Demi dingin yang menyelimuti fajar
selagi sayup parau kembali bergema
di sudut kamar
Biar langkah-langkah menyeruak
di rerumputan basah
‘Bukankah kita pun terseret zaman,’
bisikku

Demi sebuah nama yang terpahat
di gerbang cinta
ketika birunya kembali memberi jiwa
Relakan hidup berpijak
pada tanah nan lembab ini
‘Lalu berguling di pusaran waktu,’
sahutmu

Read more...

Aku Dalam Riwayatnya

>> 04 September 2009

Lamunanku bersandar di rengkuhan hangatnya
Lamat-lamat dia riuhkan semangat
Memupus ketakberdayaanku memapah
sebongkah keyakinan
“Kucari seuntai benang merah untuk kita”

Dialah yang mengibaskan jiwaku yang kuyup
terguyur rasa cemas kehilangan
Dialah yang memilin hasratku dan hasratnya
hingga tak lekang oleh derap masa

Aku dan dia menggelandang tanpa tubuh
Tak perlu tahu seberapa jauh
menembus lagu sepi yang tak merestui
Tak terduga berapa lama
mempertentangkan angan dan realita

Satu bintang melesat turun
menancapkan rindu di titik letalku
Dia tak kembali malam ini
“Lilin-lilin itu seharusnya kita tiup bersama”

Aku yang lelah mengembara tanpa raga
luluh lantak dalam kubangan jelaga
Tuhan tetaplah teramat bijak
menuliskan namaku sebagai metafora
pengisi jeda dalam riwayatnya

Read more...

Inilah Kisah Hidupku

Aku ingin tiap detik dalam hidupku tak menjadi sampah yang terserak sia-sia. Andai aku seorang pelukis, pastilah telah kugoreskan warna-warni kisahku di atas kanvas. Jika aku penyanyi, pastilah kulantunkan nada cinta pada tiap jiwa yang berharga dalam hidupku. Tapi aku hanya blogger. Yang dapat kulakukan hanyalah membagi kisahku melalui tulisan. Apa yang kuharapkan? Entahlah, mungkin tulisanku bisa dibaca, dikenang, direnungkan atau sekedar menjadi pengisi jeda dalam riwayatmu.

Inilah Nicka Yang Kaukenal

  © Free Blogger Templates Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP