Tampilkan postingan dengan label Vega. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vega. Tampilkan semua postingan

Sampai Akhir Hidupku

>> 20 Oktober 2009

Lalu menjadi nyata
menuntunku ke lembah kasih
wangi abadi
Tinggalkan aku saat kau harus pergi
dan kembalilah saat kau ingin kembali

Tuhanku, dia ada di tempat-Mu
aku pun tak kuasa mencemburui
Tak terganti oleh apapun
tapi, Kau sejukkan aku dengan kasih saying
dan cinta-Mu selalu menjaganya

Lalu menjadi nyata
Izinkan aku hidup lebih lama
menuntunku untuk tak menyakiti dia
dan tak meluruhkan segala mimpinya

Tuhanku, aku pun ada di tempat-Mu
menghela nafas untuk kesejatian
mencari cinta yang telah Kau pilihkan
untuk dapat melengkapi yang harus dilengkapi
dan mencinta yang telah kucinta
sampai akhir hidupku

Read more...

Tentang Tanah Leluhur Sampai Catatan Untuk Istri

>> 18 Oktober 2009

Ada sekelumit kisah yang kauutarakan
di kala matahari menyembul malu-malu
lantas mengelus-elus pelataran Sambisari

Kaudongengkan padaku tentang tanah leluhurmu
Jauh di kaki Gunung Lawu
Jalannya menanjak, berbatu, dan berliku
Seperti perawan menggemaskan
Belum disunting kebinalan zaman
Hanya boleh diintip dari balik tirai gelap
Mengundang tanda tanya
Dengan jemarinya yang halus, terus menarikmu
”Pulanglah ke peraduanmu...”
Di sana cupid pertama kali memanah
Tepat menancap di hatimu

Kauceritakan tentang akhir tragis
skenario asmara
Lakonnya, kamu dan peri tidurmu
Yah, dia yang sekarang terlelap atau
enyah di suatu rentang waktu
Belasan suratmu cukup jadi saksi bisu
Tak satu pun mampu mengurai jawaban
’Masihkah kamu milikku’

’Jika tahu bulir-bulirnya meretaskan
penyesalan,
sejak lama kutumbang penantian
yang megakar,” kilahmu

Dan kamu mencemaskan aku
Kaucubit pipiku, memastikan bahwa aku
Hanya aku dan tetaplah diriku
Aku bukan jelmaan iblis betina
yang mengusung angan pria kasmaran
sembari menjilat pikiran
dengan perspektif pengabdian perempuan
setelah disanding di pelaminan
Namun, diam-diam menikam
sesaat kamu lena

Kau kisahkan pula tentang calon pengantinmu
Ada saat-saat menakar, mengayak, dan
menimbang
Bibit, sebaik apa keluarganya
Bebet, seberapa memikat rupanya
Bobot, sebanyak apa hartanya

Aku yang terlahir dari ketiadaan
Telah lancang ikut berarak-arak
Bersama hasrat dan harapanmu
Hanya untuk menerka-nerka
Berapa poin plus minus kauberi

Terlalu lelah menebak, kuputuskan terjun saja
menyelami jiwamu dan mencuri mutiara itu
Dengan congkak, kubuat prasasti di dasarnya
Hanya ada nama kita berdua!

Tiba-tiba kau berikan kitab tebal padaku
catatan panjang untuk seorang istri
Terpajang potret ibumu di sana
’Jangan khawatir, Sayang,” bisikku

Aku bisa meracik kebersamaan
yang penuh cita rasa
Tiap hari kunyalakan tungku kesetiaan
Menanak makna dan impian hidup kita
Menyuguhi kehangatan kasih yang
tak pernah akan basi
Tak perlu kauminta pun,
aku setia menyulam detik-detik terindah
Menjahit keyakinan agar tak usang
Dan ke dalam jambangan,
kurangkai cinta yang tak layu
oleh musim

Read more...

Memuja Angan

>> 17 Oktober 2009

Hanya karena memujamu
tak pernah cukup,
Kau sandera sajak-sajak cintaku
Ke dalam celah paling gelap yang tersisa
dari segala kuasamu
Tersenyumlah, karena kau merajai hidupku
Seolah undangan Sang Maut tak lebih dari
goresan tinta emasmu

Tolonglah, jantungku hanya satu
Tapi kau rela membelahnya jadi dua
daripada membaringkanku utuh di sisinya
Jika ketamakan telah menang atas cinta,
renggut saja jiwa ini dan bakar hidup-hidup

Read more...

Persembahan Terakhir

>> 16 Oktober 2009

Untuk cinta,
kunyanyikan sebuah lagu
tanpa petikan gitar
tanpa denting piano
Hanya ketangguhan yang menghentak
iringi pesta dansa terakhir
Aku bernyanyi sepanjang malam
menidurkan kerisauan

Berbanggalah!
Putri manjamu akan berduel
mencoba taklukkan kenyataan terburuk
Tak bakal ada pertumpahan darah
Namun, kuminta engkau bersiap
untuk sorak kemenangan
atau tangis kehilangan

Untuk kasihku,
telah kutitipkan bait-bait puisi
pada peri tidurmu
Dia ’kan menentramkanmu
sebab waktuku tak lama
Ketika tirai ungu tersingkap
dan terang menjamah dedaunan
tiba saatnya aku terbang bebas
ucapkan salam perpisahan
pada sangkar emas
Ini bukan saatnya untuk cemas!
Engkau akan bersanding dengan siapa
atau bayangan siapa
Bukankah tak pernah kujanjikan apapun?
Kepulanganku tak bias diramal
dan tiap jengkal yang tertinggal
tak mungkin kulintasi kembali

Read more...

Pusara Cintaku

>> 13 Oktober 2009

Menabur kabung di atas pembaringan
selepas kutangisi senyum itu
Bukan pertama aku diterbangkan cinta
Namun, satu sayap terenggut paksa

Sedikit terhibur kusaksikan bidadari kecil
mengayam bunga rumput di samping pusaramu
Puji-pujian membumbung tinggi
Iringi kekasih terakhir meniti tangga cahaya

Jemari mungil menarik kerudungku
“Di mana ayahku?”
Hampir lidahku membatu
Jika suara itu memuntahkan sendu

Gadis kecil mengguncang tubuhku
“Aku ingin sepandai ayah
Aku ingin sekolah dan ayah mengantarku
Aku ingin juara agar ayah memberi hadiah”

Satu tarikan nafas membuatku tersungkur
Barulah kumengerti, dirinya tak terganti
Bibir lembut mengecup pipiku
“Aku ingin secantik ibu”

Ah, sayang…
Waktu menyihirmu jadi lebah
dan kau harus mengisap madu
dari bunga terpahit

Tetapi, manakala kau jemu bermain
dengan bunga-bunga liar
nantikan awan hitam meruntuh
dan purnama memayungi mimpi indahmu

Bersiaplah meraih bintang paling terang
hanya dengan tanganmu
karena tak bisa ku warisi apapun
kecuali cinta

Keajaiban terbesar bersarang
di bola matanya,
“Apa itu cinta, ibu?”

Duhai…cahaya mataku
Adalah cinta saat ku bertaruh nyawa
mengatarmu ke dunia
Adalah cinta saat kuhangatkan kau
di dadaku
Adalah cinta saat kuuntai namamu
di tiap doa
sebenar-benarnya cinta ketika
kubimbing kau membaca makna hidup

Putri kecil terkulai lemah di pangkuan,
“Apakah ayah juga memberiku cinta?”

Read more...

Putri Piningit

>> 12 Oktober 2009

Mendung dan kabut pekat
kutumpahkan di atas pembaringan
sebagai ganti tak kubeberkan
rahasia hati yang hilang kebebasan

Aku mengutuk angan-angan
berkelebat lincah
seiring denting gelisah
tak berkesudahan

Kata hati minta dituruti
“Ajaklah aku menengok dunia luar”
Imajinasi yang lama terkungkung
Lepas, merambah rimba tak bersurga

Hingga sekujur penantianku berlumut
Tak terdengar jawaban dari Tuhan
atas satu pinta sederhana
“Bebaskan aku dengan kalam-Mu”

Tapi, waktu punya cara tersendiri
Diam-diam mencemooh
“Tak bebas, tapi malah kandas
diapit empat sisi tembok batu”

Read more...

Mencinta Syair

>> 05 September 2009

Pada satu kemilau
yang tersesat di latar kelam
Izinkan sajakku menyatu
bersama angin malam
Saat semilirnya masih menghela
debu-debu rindu

Pada berkas cahaya
yang menggurat nirwana
‘Kan kujeritkan selarik
petikan kalbu
‘Biarlah sukmaku mencinta syair,
tanpa harus menyair cinta’

Read more...

Inilah Kisah Hidupku

Aku ingin tiap detik dalam hidupku tak menjadi sampah yang terserak sia-sia. Andai aku seorang pelukis, pastilah telah kugoreskan warna-warni kisahku di atas kanvas. Jika aku penyanyi, pastilah kulantunkan nada cinta pada tiap jiwa yang berharga dalam hidupku. Tapi aku hanya blogger. Yang dapat kulakukan hanyalah membagi kisahku melalui tulisan. Apa yang kuharapkan? Entahlah, mungkin tulisanku bisa dibaca, dikenang, direnungkan atau sekedar menjadi pengisi jeda dalam riwayatmu.

Inilah Nicka Yang Kaukenal

  © Free Blogger Templates Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP